Skip to main content

Kumpulan Puisi Sahabat

Kumpulan Puisi Sahabat Penulis dalam majalah Poedjangga Baroe dipengaruhi oleh Tachtiger, kegiatan sastra Belanda dari thn 1880-an. Sutherland menyebutkan jika tema-tema romantis dimanfaatkan sbg pelepas lara atas perubahan dalam warga Indonesia. Kumpulan Puisi Sahabat  Tidak Sama dari karya-karya terbitan Balai Pustaka, umpamanya Sitti Nurbaya (1922) karya Beram Rusli, yg menekankan kearifan lokal, prosa yg dimuat dalam Poedjangga Baroe menekankan identitas nasional, & penulis bahkan posting mengenai daerah yg belum sempat dikunjungi. Tema lama, seperti kawin paksa, ditinggalkan. Kumpulan Puisi Sahabat Menurut Sutherland, sebahagian agung penulis Poedjangga Baroe memanfaatkan tema ambigu kepada pemerintah Hindia Belanda & budaya tradisional yang merupakan tema mutlak dalam karya mereka. Meski mereka menolak kekuasaan Belanda atas Nusantara, mereka merangkul budaya Barat; Sutherland posting bahwa sekian banyak penulis yg paling nasionalis sebenarnya amat kebaratan.[28]

Keith Foulcher, satu orang dosen sastra & bahasa Indonesia di Australia, posting bahwa puisi yg dimuat dalam Poedjangga Baroe berasal dari penataan ulang wujud tradisional & menekankan pemilihan kata yg estetis; menurut dirinya, tema yg dituliskan termasuk juga maksud mulia atau rasa kesepian di tengah keindahan alam.[42] Menurut HB Jassin, puisi-puisi ini, meski memakai wujud gaya Barat & diksi ala Indoneisa, masihlah memiliki irama Melayu.[43]
Penerimaan & pengaruh

Penerbitan Poedjangga Baroe disambut bersama hangat oleh penulis bujang & kaum intelektual, yg menganggapnya yang merupakan trick buat mengungkapkan pandangan nasionalis mereka.[38] Tapi, kaum tradisionalis mengeluh mengenai modernisasi bahasa Melayu yg dilakukan oleh Poedjangga Baroe. Geram Sutan, kepala Dewan Guru Bahasa Melayu, menyebut bahwa majalah ini merusak kemurnian bahasa Melayu Tinggi & wujud puisi tradisional.[31] Kaum tradisionalis pula menolak pemasukan bahasa serapan dari bahasa daerah & bahasa asing ke dalam bahasa Melayu Kumpulan Puisi Sahabat pula menyimpang dari wujud tradisional pantun & syair.[44] Tokoh Melayu lain yg menolak Poedjangga Baroe termasuk juga Agus Salim, S.Meter. Latif, & Sutan Mohamad Zain.

Karya sastra Indonesia yg diterbitkan antara thn 1933 & 1942 kadang-kadang dinamakan milik "angkatan Poedjangga Baroe", yg merujuk terhadap dominansi publikasi ini. Penerjemah sekaligus kritikus sastra Burton Raffel menyebutkan majalah ini juga sebagai "bidannya satu buah revolusi literer" & mencatat bahwa Poedjangga Baroe barangkali agung sudah mempengaruhi revolusi politik kepada thn 1940-an. Kumpulan Puisi Sahabat Tetapi, qualitas estetis karya-karya yg dimuat dalam Poedjangga Baroe waktu ini meraih kritik yg tercampur. Penulis sekaligus kritikus sastra Muhammad Balfas menyebut terhadap th 1976 bahwa biasanya puisi yg dimuat dalam Poedjangga Baroe terlampaui sentimental & penuh dgn retorika yg berlebihan; menurut ia, ini disebabkan pengaruh Tachtigers.[48] Tidak Sedikit dari karya ini telah mulai sejak terlupakan.

Kumpulan Puisi Sahabat - Bakri Siregar, seseorang kritikus sastra beraliran Marxis, mengutuk Poedjangga Baroe dikarenakan sifat politiknya yg netral. Dirinya berpendapat bahwa sifatnya itu membuatnya tak bakal mengerti kebutuhan penduduk dengan cara objektif, maka tak akan memang mencerminkan perjuangan nasional

Comments

Popular posts from this blog

Kata Kata Galau Patah Hati Terbaru

Kata Kata Galau Patah Hati Terbaru - Poedjangga Baroe ditutup dengna runtuhnya pemerintah Hindia Belanda sesudah Jepang menduduki Indonesia kepada bln Pebruari 1942;[21] edisi terakhir yg diterbitkan berjilid tiga & berlaku utk masa Desember 1941 sampai Pebruari 1942.[22] Dalam edisi ini, redaksi posting bahwa mereka hendak meneruskan penerbitan sewaktu kondisi masihlah mengizinkan; ini tak terwujud, walau ada penulis-penulis yg memakai gaya bahasa yg serupa.[23] Hingga ditutup, ada kurang-lebih sembilan puluh edisi yg diterbitkan.[1]

Dari thn 1948 hingga 1954, sesudah penyerahan Jepang & menjelang akhir Perang Kemerdekaan Indonesia, series baru bersama judul yg sama didirikan oleh STA. Kata Kata Galau Patah Hati Terbaru Penulisnya baru, termasuk juga Chairil Anwar, Achdiat Karta Mihardja, & Asrul Sani.[1][24] Majalah Pudjangga Baru ini setelah itu ditukar dgn Konfrontasi, yg pun dipimpin oleh STA & diterbitkan tiap-tiap dua bln dari th 1954 hingga 1962.[25]

Menurut pr…

Puisi Sedih karena Cinta

Puisi Sedih karena Cinta - Pujangga Baru (GEG: Pujangga Baru, Soewandi Ejaan: Pujangga Baru) Adalah SEBUAH majalah sastra Indonesia Yang Yang pelopor Diterbitkan Dari bulan Juli 1933 sehingga Februari 1942. Majalah ini Label Roti didirikan Armijn, Amir Hamzah, Dan Sutan Takdir Alisjahbana (STA).
Dari Awal Abad ke-20, gatra Orang pribumi Hindia Belanda Mulai Menjadi bersemangat nasionalisme Tinggi, with Yang diwujudkan terbitnya beberapa publikasi Nasionalis. Puisi Sedih karena Cinta Armijn, Hamzah, Dan STA, Dari Pulau Tiga Penulis Sumatera, memulai prosa pembentukan majalah baru Pada Bulan September 1932. Surat Kepada mereka mengirimkan 40 Penulis Yang Aktif Dalam Bagian sastra Dari Quran Pandji Poestaka Dan meminta Tulisan, Serta Sepuluh surat Kepada para Sultan untuk review meminta Dukungan. Penghasilan kena pajak Kontrak DENGAN Penerbit Milik Belanda Kolff & Co. 
TIDAK DAPAT terwujudkan, para pendiri bersepakatan untuk review menerbitkan majalah mereka Sendiri. Maja…

Kata Kata Galau

Kata Kata Galau Para penulis utk Poedjangga Baroe tak bersatu dalam pandangan politis mereka[31] & majalah ini mengusahakan utk bersifat netral. Ini diterapkan biar majalah ini tak disensor oleh pemerintah kolonial & utk melindungi penulis yg bekerja utk pemerintah. Tetapi, masihlah ada tulisan dari beraneka ragam pandangan politik yg dimuat, termasuk juga karya-karya oleh nasionalis budayawi, satu buah sonet buat teoris Marxis Rosa Luxemburg, & catatan-catatan menyangkut fascisme.

Kata Kata Galau Walaupun para penulis Poedjangga Baroe bersatu dalam semangat nasionalisme, mereka mempunyai sisi pandang menyangkut budaya yg amat tidak serupa. Sekian Banyak, seperti Armijn & STA, mempunyai anggapan bahwa pengertian budaya & peristiwa Barat benar benar utama utk perkembangan negeri. Penulis lain, umpamanya Sanusi, menekankan perlunya nilai-nilai Timur, meski ada factor budaya Barat yg di terima.[33] Penulis utk Poedjangga Baroe serta memiliki latar belakang agama yg tid…